Apa yang kita tahu tentang “pintu”?
Dari realita “pintu” yang kita alami sehari-hari, disadari ataupun tidak, pernahkah kita menghitung? Berapa kali dalam sehari kita membuka dan menutup pintu? Adakah dalam keseharian, kita menghadapi masalah dengan pintu? Terbentuk pintu? Tertinggal kunci pintu? Tangan terjepit pintu? Kadang kita tidak sabar menunggu pintu dibukakan, juga terkadang kita marah sebab seringnya pintu rumah diketuk atau bel pintu rumah berbunyi. Tak jarang di antara kita menggunakan “pintu” sebagai lambang keamanan dan kenyamanan. Disayangkan hanya sedikit orang yang merefleksikan “pintu” sebagai lambang keterbukaan. Untuk menghindari gigitan nyamuk, banyak keluarga yang memasang pintu kawat nyamuk di rumahnya. Untuk menghilangi rasa cemas dan khawatir terhadap kerusuhan, orang secara latah memasang pintu baja besi sebagai lapis pertama dari pintu gerbang rumahnya. Budaya takut tampaknya sudah kental mewarnai kehidupan masyarakat dewasa ini. Ketakutan tanpa alasan dan tanpa objek yang jelas membuat kita terkurung dalam sebuah ruang berpintu rapat. Kita merasa lebih aman dengan pintu tertutup dan terkunci. Kecemasan yang berlebihan dan ketakutan yang tinggi acap kali membuat kita semakin gelisah ketika mendengar pintu diketuk. Tak ada usaha kita untuk mau mengintip ada apa dan siapa di balik pintu, malah spontan kita lebih berusaha untukmenutup pintu serapat-rapatnya. Tak disangkal, saat ini orang takut dengan orang, entah dirinya ataupun sesama di lingkungan sosialnya. Sehingga orang memagari pintu dirinya. Banyak orang lebih berpikir akan merasa aman dan nyaman dengan hati yang tertutup, sekalipun terdengar sayup-sayup sekian banyak orang mengetuk pintu hati kita. Haruskah kita membiarkan banyak orang menungu di depan pintu hati kita? Bukankah orang-orang itu mempunyai keterbatasan kesabaran menunggu? Tidakkah terpikir, bahwa satu di antara orang-orang itu membawa pesan yang sedang kita tunggu dan kita harapkan? Pintu rumah kita boleh tertutup dan terkunci rapat. Namun jangan untuk pintu hati kita. Lepas semua kawat berduri dan lingkaran baja besi di depan pintu hati kita. Bahkan jangan pula pasangkan kunci yang rumit. Buat agar semua orang mudah untuk masuk; memberikan pesan ataupun mengambil pesan. Tak ada alasan untuk terbentur dan terjepit pintu hati, sebab pintu hati kita adalah pintu Tuhan, yang selalu membebaskan dan mendorong kita untuk ramah dan terbuka terhadap diri sendiri dan sesama di lingkungan sosial kita. Jadikan hati kita berbasiskan semangat saling berbagi dan menjadi lambang keterbukaan bagi hati banyak orang.
Jakarta, 5 Juni 2006
|
|||


Benda yang namanya pintu ini dalam keadaan tertutup, jelas sangat nenghalangi jalan kita. Pintu yang tertutup juga mempersulit langkah dan gerak kita. Apalagi pintu yang terkunci, kita diharuskan untuk mengetuk atau menekan bel pintu. Situasi yang diakibatkan oleh pintu terkunci ini berdampak pada kerugian waktu beberapa saat, yang mana kita diminta untuk menunggu datangnya seseorang membukakan pintu sebagai jalan masuk untuk kita.