Persembahkan Waktu

Dari detik ke detik waktu terus berlalu berganti jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Waktu tak kenal rambu stop dan terus berputar bagaikan roda. Waktu terus berjalan; berjalan maju ke depan tak pernah berjalan mundur ke belakang.

Demikian pula dengan hidup kita sehari-hari yang bergumul dengan waktu. Suka ataupun tidak suka, diminta ataupun tidak diminta, sang waktu melaksanakan tugas sempurnanya yakni menggerakkan kehidupan kita. Waktu tidak membuat kita berhenti terdiam; waktu juga tidak mengajak kita untuk berjalan mundur ke belakang; tapi waktu mendorong hidup kita untuk berjalan melangkah maju ke depan. Waktu membiarkan hidup kita memperoleh sejumlah  pengalaman hari kemarin; waktu memberikan kesempatan pada hidup kita untuk menimba sejumlah pengalaman hari ini; dan waktu menyediakan tawaran untuk meraih sejumlah pengalaman yang lebih baik untuk hari esok.

Bersama waktu, kita diajak untuk terus mengayuh hidup kita. Di dalam waktu yang terus berputar dan berjalan ada sejumlah nilai yang ditawarkan kepada kita. Waktu mengandung nilai yang kita temukan dan hadapi dalam hidup keseharian. Nilai yang membuat hidup kita lebih mengenal makna hidup dan mengungkap syukur.

Dari waktu ke waktu, masing-masing di antara kita, anda dan saya berniat untuk hidup lebih baik sebagaimana mutiara kata yang sering dituturkan oleh para orang bijak ”Hari Ini Lebih Baik dari Hari Kemarin”. Untuk memenuhi niat menjadi lebih baik, sehari-hari kita berusaha memanfaatkan dan mengisi waktu dengan nilai-nilai yang baik. Bila minggu ini terlambat datang ke gereja, diusahakan minggu depan tidak terlambat, 10 menit sebelum Perayaan Misa Syukur sudah duduk berdoa di gereja; bila hari ini pulang sangat larut malam dan kurang waktu untuk keluarga, diusahakan esok bangun lebih pagi menyapa seluruh anggota keluarga dan menyediakan waktu untuk makan malam bersama keluarga di rumah; bila hari ini belum membaca kitab suci, diusahakan esok pagi sebelum melakukan aktivitas apapun berikan waktu untuk membaca renungan dan doa harian; bila hari ini masih berucap kata dan bertingkah laku yang mengecewakan orang, diusahakan sepanjang hari esok membuat orang tersenyum dan merasa nyaman dengan kata dan sikap kita; masih banyak nilai-nilai kehidupan yang ditawarkan oleh sang waktu.

Tak jarang saat berkejaran dengan waktu kita larut dalam waktu, kita menjadi diatur oleh waktu sehingga tanpa disadari waktu mengatur hidup kita dan membawa kita masuk dalam sebuah rutinitas. Nilai-nilai kehidupan yang ada dalam waktu adalah tawaran untuk kita pilih dan putuskan, sayangnya rutinitas membawa kita pada hal-hal yang sudah biasa dan sudah enak atau ”posisi wuenak (PW)”. Cobalah satu menit saja bercermin pada kegiatan keseharian kita.

Betapa kita asyik nonton film 2 jam lamanya namun kita merasa lama dan bosan untuk terlibat menjadi petugas liturgi di gereja yang waktunya lebih pendek dari nonton film. Kita mengeluh bila khotbah di Gereja lebih lama sedikit daripada biasa, tapi kita asyik saja bahkan bersorak senang bila tontonan bola diperpanjang waktunya. Kita mudah menyesuaikan waktu dengan kegiatan yang menyenangkan, tapi betapa sulitnya kita menyesuaikan waktu untuk kegiatan pendalaman kitab suci di lingkungan. Dengan berjuta alasan kita tidak mau berdoa spontan karena sulit mencari kata-kata, tapi begitu lancar dan mudah kita bergosip dan ngobrol. Kita lebih mudah membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu kedagingan  semata, namun alangkah sulitnya menahan napsu melakukan mati raga atau pantang dan puasa selama masa prapaskah. Kita rasanya tak ada waktu  untuk membaca satu ayat Kitab Suci, bila ada waktu untuk membaca, sulit sekali untuk dipahami dan ragu untuk dipercaya tapi waktu kita selalu mudah tersedia untuk membaca 100 halaman dari novel yang laris atau membaca koran dan majalah, yang semua berita dan ceritanya kita percayai.

Apa yang dapat anda dan saya simpulkan saat bercermin dengan waktu? Sebagai anak Allah, anda dan saya diminta untuk mengayuh roda waktu agar setiap putarannya berisi dan melekat dengan nilai-nilai yang bermanfaat dan bermakna bagi kehidupan menggereja, keluarga dan masyarakat sekitar. Persembahkan waktu satu menit untuk sebuah nilai kehidupan.

Jakarta 8 Juni 2008
Mimi M. Lusli