Bila weekend tiba, umumnya anak muda merasa lega, terlepas dari sejumlah beban tugas dan tanggung jawab. Mereka merencanakan sejumlah kegiatan yang melepaskan segala kepenatannya dari hari Senin sampai dengan Jumat. Ada yang ngemall, ada yang ramai-ramai pergi nonton, ada pula yang duduk-duduk santai di taman-taman wisata. Di antara anak muda ada yang suka menghabiskan weekendnya dengan berburu makanan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari jajanan pasar hingga menu Eropa dan Cina. Tapi ada juga anak muda yang memilih tidur seharian. Mereka mencari nikmatnya masing-masing; seperti secara berkelompok, mereka ada yang menikmati tempat, menikmati makanan, menikmati film atau menikmati suasana ngobrol; namun ada yang lebih suka menikmati kegiatan dirinya sendiri seperti “tidur” atau “membaca”. Apa yang dilakukan oleh kelompok anak muda juga terjadi pada kelompok ibu-ibu / mama-mama. Saat anak-anaknya masuk sekolah, mereka awalnya melakukan kegiatan menunggu di sekolah, pikiran mereka cenderung sama “bila pulang ke rumah, bisa terlambat menjemput anak, karena jalanan macet dan ongkos juga menjadi lebih mahal”. Dari kegiatan menunggu, mereka mulai saling berkenalan, saling bercerita, saling menemukan kesamaan interest. Daripada bosan menunggu, mereka pun mulai bareng-bareng pergi ke tempat-tenpat yang tidak jauh dari sekolah. Mereka ramai-ramai ke pasar tradisional / pasar swalayan / mall; ke warung makan / restoran; ke rumah salah seorang ibu yang rumahnya tidak jauh dari sekolah untuk ngobrol / nonton TV / karaokean; ada di antara mereka yang pergi fitness / yoga / olahraga lainnya. Kegiatan ibu-ibu / mama-mama yang sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu dapat berkembang hingga saling menukar menu/resep masakan, saling menawarkan dagangan, saling menginformasikan “diskon” / “bonus” dari produk tertentu atau informasi “cuci gudang” di mall / department store / toko tertentu. Mereka menikmati apa yang dilakukan, mereka merasa menghabiskan waktu lebih bermanfaat daripada hanya duduk menunggu di sekolah. Bagaimana dengan bapak-bapak / papa-papa? Mereka juga mencari nikmatnya sendiri. Di antara mereka, ada yang suka utak-atik barang elektronika / komputer / motor / mobil; ada yang asyik pergi memancing / main golf / berenang; ada yang memilih duduk-duduk ngobrol sambil merokok di warung kopi / café; beberapa laki-laki ada yang suka berbelanja dan masak. Mereka melepaskan kesibukan hari-harinya dengan kegiatan yang disukainya yang dapat menyegarkan dan mengembalikan semangat kerjanya lagi. Akhir-akhir ini hampir semua orang menikmati internet, yang bisa dijangkau lewat komputer dan lewat handphone. Mereka menikmati informasi, berita, permainan, juga penawaran-penawaran menarik lainnya. Internet menjadi konsumsi yang dinikmati oleh khalayak banyak yang tidak mengenal waktu,yang tidak mengenal usia dan yang tidak mengenal ruang,. Seperti itukah kenikmatan yang kita cari? Sungguhkah kenikmatan itu yang kita perlukan? Dan apa benar kenikmatan semacam itu dapat melepaskan kelegaan kita, dapat memberikan manfaat kepada kita, dapat mengembalikan semangat kerja kita? Menikmati makanan, film, tempat-tempat belanja atau menikmati lainnya yang menjadi kesukaan/kesenangan kita adalah sesuatu yang wajar, bahkan sesuatu yang mutlak kita perlukan untuk membuat keseimbangan diri kita;antara kegiatan serius dengan kegiatan santai; antara kita sebagai makhluk individual dengan kita sebagai makhluk sosial; terpenting adalah mendapatkan keseimbangan hubungan kita secara vertikal dan horisontal. Hal dan kegiatan santai yang kita lakukan, yang kita nikmati akan sangat mempertahankan bahkan memelihara semangat hidup kita bila hal dan kegiatan tersebut berbekas indah dan positif dalam diri kita, bukan hanya sekedar yang kita sukai.
Mimi M. Lusli Jakarta 28 November 2008
|
|||


Nikmat yang sejati adalah nikmat yang membawa optisme dan semangat untuk terus bersyukur. Kita mau bersyukur, weekend minggu ini masih diberi kesempatan untuk makan bareng dengan keluarga. So, kita menikmati makanan, terlebih kita menikmati interaksi dan senda-gurau antar anggota keluarga. Di saat kita bisa menikmati interaksi dan dialog dengan sesama, di situlah kita menikmati luar biasanya kasih Tuhan. Enjoy your life.