Harta yang Langgeng

Pernahkah anda membaca atau mendengarkan kisah seorang lelaki setengah baya bosan hidup?

Begini alkisahnya, ada seorang lelaki setengah baya sukses dalam usahanya, punya keluarga yang harmonis, berkelimpahan rejeki dan hidup tak pernah kekurangan. Ia suka beramal, bahkan menjadi orangtua asuh dari beberapa anak jalanan. Sempurna bukan? 

Rutinitas pekerjaan  kantor dikerjakannya layaknya roda yang terus berputar; bertemu mitra bisnis, memimpin rapat hingga mengerjakan urusan surat-menyurat laporan keuangan. Begitu juga di rumah. Pagi-pagi sekali, ia berangkat dari rumah, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah lalu menuju kantor. Setengah jam sebelum makan malam, ia sudah di rumah, istri dan anak-anaknya sudah menunggu di ruang makan. Harmonis bukan?

Apa lagi yang dicari oleh lelaki setengah baya itu? Semuanya ada dihadapannya, tapi mengapa ia selalu dan sering mengeluhkan hidupnya? Ia merasa lelah dan hari-hari yang dilewatinya sangat  membosankan. Ia jenuh, apa yang dimiliki tak bisa dinikmatinya.
Ingin rasanya ia menghentikan perputaran roda kehidupan ini, “kematian” gumam lelaki setengah baya itu, “keluargaku tak akan kekurangan hidupnya, aku sudah menyiapkan harta untuk mereka, aku sudah bosan hidup, aku ingin mati saja”.

Untunglah akal sehatnya masih mengajak ia untuk berpikir. Ada keinginan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia takut dosa. Lalu ia pergi ke orang pintar untuk mendapatkan kematian. Kata orang pintar: “Kamu sakit”. Lelaki itu pun menjawab: “Tidak, aku tidak sakit,  aku bosan hidup, aku mau mati."

Orang pintar menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berusaha menasehati lelaki itu. Sia-sia belaka, lelaki itu bersikeras  ingin mati. Diberinya dua buah tablet untuk diminum malam ini dan besok pagi. Setelah 24 jam meminum obat tersebut lelaki itu akan meninggal dunia sesuai harapannya.

Lelaki setengah baya merasa senang, ia pulang ke rumah dengan penuh gairah dan padat rencana. Ia ingin berbuat sesuatu yang berkesan bagi semua orang, karena itu ia akan melakukan apa yang tidak biasa ia lakukan.

Ia tersenyum dan menyapa istri dan anak-anaknya. Ia memasak untuk keluarganya. Ia membantu anak-anaknya mengerjakan tugas rumah dan menyiapkan buku-buku pelajarannya. Ia menemani istrinya membersihkan dapur dan ruang makan. Sebelum pergi tidur, ia mengajak keluarganya  untuk membaca kitab suci dan berdoa. Malam terakhir bersama istri dan anak-anak, “Aku ingin membahagiakan dan melayani mereka”.

Di kantor, ia memberikan salam kepada seluruh stafnya. Ia mengajak makan siang bersama. Ia menyapa para mitra kerjanya. Semuanya ini dilakukan karena ia berpikir “Hari ini adalah hari terakhirku, aku ingin membuat mereka senang”.

Dari hal-hal yang tidak biasa ia lakukan, pelan-pelan rasa bahagia menyelinap dalam hati lelaki itu, yang tanpa disadarinya menghilangkan sedikit demi sedikit rasa bosan dan jenuhnya. Lelaki setengah baya mulai menikmati rutinitas pekerjaannya yang dilakukan dengan penuh senyum, diiringi dengan sapaan dan diwarnai dengan kasih. Ia mensyukuri apa yang ada dihadapannya; ia menemukan senyum di ruang kerjanya; ia menemukan canda ria di rumahnya.

“Haruskah aku mati setelah apa yang kucari kudapatkan?”

Belajar dari alkisah lelaki setengah baya: ia menemukan kebahagiaan dalam waktu 1 hari; kebahagiaan ia dapatkan ketika ia melakukan hal/pekerjaan  yang tidak biasa ia lakukan. Harta duniawi dan hidup kedagingan yang dialaninya bertahun-tahun tidak abadi sifatnya, sebaliknya memunculkan rasa lelah dan bosan.

Hidup kita memang rutin dari bangun tidur hingga pergi tidur. Namun kita yang dikaruniai akal budi dan cinta kasih semestinya bisa mengisi rutinitas hidup dengan aneka goresan pinsil warna.

Tersenyum dan menyapa kepada orang di sekitar; berucap terima kasih kepada orang yang telah memberikan bantuan; meminta maaf untuk kesalahan yang telah dibuat; memberikan pujian dan penghargaan kepada mereka yang berupaya optimal mengerjakan sesuatu.

Inilah harta surgawi yang langgeng yang memandu semua pekerjaan rutinitas menjadi nyaman dan menyenangkan.

Carilah harta surgawi lebih dulu, maka harta duniawi akan ditambahkan seiring dengan doa “Tuhan, tambahkan iman, harapan dan kasih, Amin."

Jakarta, 17 Februari 2008

V.L. Mimi Mariani Lusli