Bercermin

Setiap hari kita tenggelam dari kesibukan yang satu ke kesibukan yang lain. Berangkat dari rumah kita sudah mengantongi sejumlah jadwal yang banyak: Janji dengan Bapak X, dengan Ibu Y, menghadiri seminar, janji teman business makan siang, meeting untuk urusan Z, menjelang sore masih ada meeting lain, belum lagi menghadapi setumpuk pekerjaan di meja kantor, juga sudah janji dengan keluarga untuk makan malam, dengan seorang teman janji untuk latihan koor lingkungan.

Seorang bapak yang padat jadwal seperti di atas  baru sore menjelang malam duduk di kantor menghadapi tumpukan pekerjaan; membaca dan memperbaiki laporan misalnya. Ketika ia sedang serius dicampur lelah bekerja, tiba-tiba telepon berbunyi. Terdengar suara teman mengingatkannya untuk latihan koor lingkungan. Dengan ringan dan sangat biasa alasan yang terucap: “masih sibuk”, “belum sempat”, “lain kali lagi”.

Sebentar kemudian, handphone berbunyi dan dilihat penelponnya dari rumah, buru-buru diangkatnya, langsung berkata: “ada apa?” Anaknya yang polos berkata:  “papa pulang cepat, opa sudah datang menunggu papa untuk makan malam”. Nada lelahnya sambil mendesah panjang ia berkata pada anaknya: “tunggu, papa sebentar lagi pulang”.

Pekerjaan dilanjutkan, “pekerjaan ini harus selesai malam ini, sebab besok akan dipresentasikan” gumamnya dalam hati. Ia panggil office boy dengan suara keras, diperintahkannya untuk fotokopi sejumlah berkas dan buatkan secangkir kopi juga belikan seporsi sate lontong. Tak lama, isterinya telepon dan menanyakan yang sama seperti anaknya. Ia langsung naik pitam, kata-kata yang ramah dari isterinya disambut dengan kata-kata makian, dan setelahnya telepon langsung ditutup dengan keras.

Seorang bapak pekerja keras ini berteriak memanggil office boy, tapi tak kunjung datang. Ia pergi ke pentri sambil ngomel-ngomel, tiba-tiba office boy datang, baru ia mau bicara, bosnya sudah memaki dan mengomel sambil gebrak pentri. Dengan lupan kesal, ia pun tak ingat lagi dengan secangkir kopi dan sate lontongnya, ia bergegas pulang dengan membawa fotokopi dokumen.

Padatnya jadwal membuat kita stres, belum lagi ditambah dengan kepadatan berlalulintas serta suasana udara yang akhir-akhir tak menentu, tiba-tiba turun hujan atau panas luar biasa. Saat janji bertemu dengan seseorang, dan kita masih terjebak dalam kemacetan, kita menjadi panik, gelisah dan cemas. Apalagi bila orang tersebut berulang kali menelpon kita untuk minta cepat datang, sementara kita tak kuasa untuk mengendalikan jalanan yang begitu antri dan tak bergerak sama sekali.

Suasana yang diliputi kecemasan, kegelisahan, tak mencapai apa yang direncanakan, kecewa karena tidak memenuhi janji, terlambat datang, membuat orang menunggu tak jarang memacu kita marah tanpa alasan. Sayangnya luapan marah seringnya nyasar pada orang-orang yang tidak tahu permasalahannya seperti suami/isteri dan anak atau  anggota keluarga lainnya, ataupun pembantu juga pada staf bawahannya seperti office boy, supir ataupun sekretaris.

Kita menjadi pemarah, bila ada yang coba menjelaskan, kita semakin marah dan kasar. Kita menjadi tidak tahu apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Kita pun tak peduli juga tak menghargai orang di sekitar yang menjadi teman kerja dan keluarga kita. Bila mereka mencoba untuk memberikan saran atau membantu, kita malah ngomel dan tak percaya. Tetapi bila mereka menjawab dengan amarah, kita semakin berteriak marah.

Bercerminlah saat marah, dan kita menjadi lebih disadarkan tentang kepribadian dan perilaku kita. Ini direfleksikan saat seekor anjing di pasturan paroki saya dihadapkan pada cermin saat ia menyalak dan menggeram. Dari cermin, anjing itu melihat seekor anjing lainnya yang juga sedang menyalak, dan ia pun semakin geram menyalak, demikian pula dilakukan oleh anjing yang dilihatnya pada cermin. Ia menerjang, menggeram lebih keras, cerminan anjing juga melakukan yang sama. Begitu terus, semakin anjing itu geram dan menyalak, maka anjing  pada cermin juga semakin geram danmenyalak. Anjing itu pun akhirnya lelah, dan terduduk dengan terengah-engah di muka cermin, dan ia melihat anjing pada cermin juga duduk tenang terengah-engah.

Ingatlah dengan cermin, bila kita sedang marah dan mengomel. Lihatlah pada cermin, bagaimana mimik dan perilaku kita saat marah? Cermin bisa mengajak kita untuk terus marah dan semakin marah, tetapi kita yang diberi anugerah akal budi, tentunya cermin membuat kita lebih cepat berhenti dari amarah. Saat diam, bercerminlah! Bagaimana mimik dan perilaku kita yang sedang diam tanpa amarah?

Begitu pun dengan kesedihan, bila kita kecewa dan membuat kita menangis, ingatlah dengan cermin. Bercerminlah saat murung dan menangis, adakah yang menarik dengan diri kita? Lebih menarik mana, bila kita bercermin dengan senyum?

Cermin mengajak kita untuk mengintrospeksi diri. Bercerminlah sejenak saat kita sudah di pertengahan sibuk bekerja; di saat kita sudah merasa lelah dan jenu; di saat kita dirundung sedih dan jengkel. Dari cermin, terlihat rambut kita yang sudah tak beraturan, wajah kita yang tampak lelah. Saat bercermin, kita diingatkan banyak hal: saatnya berhenti kerja untuk makan siang; merapikan diri dan merias wajah kembali. Cermin menyadarkan kita akan waktu untuk memprioritaskan akan pekerjaan mana yang perlu diselesaikan hari itu. Cermin juga mengajarkan kita untuk memberikan keseimbangan dalam kehidupan. Karena cermin selalu menghendaki kita tampil prima.