|
|
|
|
|
Dewasa ini masih banyak hak-hak penyandang cacat yang terpasung, biasanya mereka mengalami kekerasan diawali dari orang tuanya sendiri, misal, mereka malu mempunyai anak cacat, sehingga tidak disekolahkan, disembunyikan, bahkan ada pula yang dibuang.
Tak jarang mereka beranggapan, hal itu merupakan aib, kutukan, atau dosa dari orang tuanya. Dalam hidup bermasyarakat pelecehan sering kali terjadi, dianggabnya suatu lelucon, jika ada penyandang cacat hadir ditempat umum,sementara mereka mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang lain, baik itu dibidang sandang, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, politik, maupun kesehatan.
Menurut pendapat Dra. Yuniastuti 52 th ,” sampai saat ini penyandang cacat di Indonesia masih banyak yang disembunyikan. Pernyataannya dapat dibuktikan, lanjutnya, lembaga kecacatan mempunyai kegiatan sosial pembagian kursi roda di wilayah Klender, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat, data yang diperoleh hanya 2 dan paling banyak 3 orang yang membutuhkan kursi roda. Ketika lembaga kecacatan tersebut merealisasikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan sebagaimana data, barulah banyak orang tua yang hadir mangajukan permohonan kursi roda untuk anggota keluarganya, dipaparkan oleh Ibu Yuniastuti ketika ditemui di Komnas perempuan, jalan Latu Halhari, Jakarta Pusat, 29 Mei 2007.
Ditempat yang sama, Dra. Ariani,62 th. Mengatakan.” Kurangnya aksesibilitas ditempat umum menjadi masalah tersendiri jika penyandang cacat mengalami kecelakaan di jalan raya, maka mereka tak akan mendapatkan santunan, karena dianggab orang mabuk dan gila, begitu pula bila mau naik pesawat, penyadang cacat harus mengisi formulir dulu, seandainya terjadi sesuatu tidak boleh menuntut, dianggabnya seperti barang, bila rusak tidak boleh minta ganti sementara penyandang cacat membeli tiket seperti orang lain dengan harga yang sama,”katanya.
“Hal ini hanya terjadi di Indonesia,” kata Tolhas.
Terhadap pengalaman penyandang cacat, spontan: “Apakah penyandang cacat itu juga manusia?“ Tanya Ibu Daud ketua Komnas perempuan terheran-heran.
Lain halnya dengan pendapat Des. HRM. Hasan Sadjali 79 th. Ayah dari sepuluh anak ini mengatakan,” Anak adalah titipan Allah, semua orang mempunyai kemampuan berbeda, tak ada seorangpun yang sempurna, masing-masing ada plus minusnya, jadi kalau melihat orang itu jangan dari kekurangannya, melainkan dari kelebihannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan,” memang agak repot mendidik anak yang mempunyai keterbatasan fisik, apalagi dari sepuluh anak kami, lima diantaranya adalah penyandang tunanetra, namun asal kita sabar dan tlaten, yakinlah kendala itu akan bisa teratasi.
Jangan lupa dimana ada satu kesulitan, disitu ada sua kemudahan, dan Alhamdullilah, dari lima anak kami yang menyandang tunanetra, empat diantaranya bisa meraih gelar kesarjanaan.
Jangan lupa dari segi agama harus kita tekankan, ujarnya ketika ditemui dirumahnya, jalan Cipulir I nomor 1c Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 23 Mei 2007.
Berbeda dengan pendapat Rng. H. Suyatmi Hardi Sumarto 84 th. Kerika ditemui lewat telephone, 15 Juni 2007, eyang dari dua puluh satu anak ini mengatakan,” buat apa kita malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya? . Jadi sebaiknya kita tak usah mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita.
Untuk urusan rizki tak usah terlalu dipusingkan, karena semua orngan di dunia ini rizkinya ditanggung oleh yang Maha Agung,tambahnya.
Diera globalisasi seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sedang menjadi topik hangat baik di dalam maupun di luar negri, maka, sangatlah tidak terpuji, bila masih ada orang yang senang memasung hak orang lain.
Penyandang cacat adalah asset Negara, berikan hak dan tanggung jawabnya agar mereka bisa melakukan sesuatu untuk nusa dan bangsanya.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
Dewasa ini masih banyak hak-hak penyandang cacat yang terpasung, biasanya mereka mengalami kekerasan diawali dari orang tuanya sendiri, misal, mereka malu mempunyai anak cacat, sehingga tidak disekolahkan, disembunyikan, bahkan ada pula yang dibuang.
Tak jarang mereka beranggapan, hal itu merupakan aib, kutukan, atau dosa dari orang tuanya. Dalam hidup bermasyarakat pelecehan sering kali terjadi, dianggabnya suatu lelucon, jika ada penyandang cacat hadir ditempat umum,sementara mereka mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang lain, baik itu dibidang sandang, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, politik, maupun kesehatan.
Menurut pendapat Dra. Yuniastuti 52 th ,” sampai saat ini penyandang cacat di Indonesia masih banyak yang disembunyikan. Pernyataannya dapat dibuktikan, lanjutnya, lembaga kecacatan mempunyai kegiatan sosial pembagian kursi roda di wilayah Klender, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat, data yang diperoleh hanya 2 dan paling banyak 3 orang yang membutuhkan kursi roda. Ketika lembaga kecacatan tersebut merealisasikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan sebagaimana data, barulah banyak orang tua yang hadir mangajukan permohonan kursi roda untuk anggota keluarganya, dipaparkan oleh Ibu Yuniastuti ketika ditemui di Komnas perempuan, jalan Latu Halhari, Jakarta Pusat, 29 Mei 2007.
Ditempat yang sama, Dra. Ariani,62 th. Mengatakan.” Kurangnya aksesibilitas ditempat umum menjadi masalah tersendiri jika penyandang cacat mengalami kecelakaan di jalan raya, maka mereka tak akan mendapatkan santunan, karena dianggab orang mabuk dan gila, begitu pula bila mau naik pesawat, penyadang cacat harus mengisi formulir dulu, seandainya terjadi sesuatu tidak boleh menuntut, dianggabnya seperti barang, bila rusak tidak boleh minta ganti sementara penyandang cacat membeli tiket seperti orang lain dengan harga yang sama,”katanya.
“Hal ini hanya terjadi di Indonesia,” kata Tolhas.
Terhadap pengalaman penyandang cacat, spontan: “Apakah penyandang cacat itu juga manusia?“ Tanya Ibu Daud ketua Komnas perempuan terheran-heran.
Lain halnya dengan pendapat Des. HRM. Hasan Sadjali 79 th. Ayah dari sepuluh anak ini mengatakan,” Anak adalah titipan Allah, semua orang mempunyai kemampuan berbeda, tak ada seorangpun yang sempurna, masing-masing ada plus minusnya, jadi kalau melihat orang itu jangan dari kekurangannya, melainkan dari kelebihannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan,” memang agak repot mendidik anak yang mempunyai keterbatasan fisik, apalagi dari sepuluh anak kami, lima diantaranya adalah penyandang tunanetra, namun asal kita sabar dan tlaten, yakinlah kendala itu akan bisa teratasi.
Jangan lupa dimana ada satu kesulitan, disitu ada sua kemudahan, dan Alhamdullilah, dari lima anak kami yang menyandang tunanetra, empat diantaranya bisa meraih gelar kesarjanaan.
Jangan lupa dari segi agama harus kita tekankan, ujarnya ketika ditemui dirumahnya, jalan Cipulir I nomor 1c Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 23 Mei 2007.
Berbeda dengan pendapat Rng. H. Suyatmi Hardi Sumarto 84 th. Kerika ditemui lewat telephone, 15 Juni 2007, eyang dari dua puluh satu anak ini mengatakan,” buat apa kita malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya? . Jadi sebaiknya kita tak usah mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita.
Untuk urusan rizki tak usah terlalu dipusingkan, karena semua orngan di dunia ini rizkinya ditanggung oleh yang Maha Agung,tambahnya.
Diera globalisasi seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sedang menjadi topik hangat baik di dalam maupun di luar negri, maka, sangatlah tidak terpuji, bila masih ada orang yang senang memasung hak orang lain.
Penyandang cacat adalah asset Negara, berikan hak dan tanggung jawabnya agar mereka bisa melakukan sesuatu untuk nusa dan bangsanya.

|
|
|
|
|
|
|
|
|
Apa yang kita tahu tentang “pintu”?
Benda yang namanya pintu ini dalam keadaan tertutup, jelas sangat nenghalangi jalan kita. Pintu yang tertutup juga mempersulit langkah dan gerak kita. Apalagi pintu yang terkunci, kita diharuskan untuk mengetuk atau menekan bel pintu. Situasi yang diakibatkan oleh pintu terkunci ini berdampak pada kerugian waktu beberapa saat, yang mana kita diminta untuk menunggu datangnya seseorang membukakan pintu sebagai jalan masuk untuk kita.
Dari realita “pintu” yang kita alami sehari-hari, disadari ataupun tidak, pernahkah kita menghitung? Berapa kali dalam sehari kita membuka dan menutup pintu? Adakah dalam keseharian, kita menghadapi masalah dengan pintu? Terbentuk pintu? Tertinggal kunci pintu? Tangan terjepit pintu? Kadang kita tidak sabar menunggu pintu dibukakan, juga terkadang kita marah sebab seringnya pintu rumah diketuk atau bel pintu rumah berbunyi.
Tak jarang di antara kita menggunakan “pintu” sebagai lambang keamanan dan kenyamanan. Disayangkan hanya sedikit orang yang merefleksikan “pintu” sebagai lambang keterbukaan. Untuk menghindari gigitan nyamuk, banyak keluarga yang memasang pintu kawat nyamuk di rumahnya. Untuk menghilangi rasa cemas dan khawatir terhadap kerusuhan, orang secara latah memasang pintu baja besi sebagai lapis pertama dari pintu gerbang rumahnya. Budaya takut tampaknya sudah kental mewarnai kehidupan masyarakat dewasa ini. Ketakutan tanpa alasan dan tanpa objek yang jelas membuat kita terkurung dalam sebuah ruang berpintu rapat. Kita merasa lebih aman dengan pintu tertutup dan terkunci. Kecemasan yang berlebihan dan ketakutan yang tinggi acap kali membuat kita semakin gelisah ketika mendengar pintu diketuk. Tak ada usaha kita untuk mau mengintip ada apa dan siapa di balik pintu, malah spontan kita lebih berusaha untukmenutup pintu serapat-rapatnya.
Tak disangkal, saat ini orang takut dengan orang, entah dirinya ataupun sesama di lingkungan sosialnya. Sehingga orang memagari pintu dirinya. Banyak orang lebih berpikir akan merasa aman dan nyaman dengan hati yang tertutup, sekalipun terdengar sayup-sayup sekian banyak orang mengetuk pintu hati kita. Haruskah kita membiarkan banyak orang menungu di depan pintu hati kita? Bukankah orang-orang itu mempunyai keterbatasan kesabaran menunggu? Tidakkah terpikir, bahwa satu di antara orang-orang itu membawa pesan yang sedang kita tunggu dan kita harapkan?
Pintu rumah kita boleh tertutup dan terkunci rapat. Namun jangan untuk pintu hati kita. Lepas semua kawat berduri dan lingkaran baja besi di depan pintu hati kita. Bahkan jangan pula pasangkan kunci yang rumit. Buat agar semua orang mudah untuk masuk; memberikan pesan ataupun mengambil pesan. Tak ada alasan untuk terbentur dan terjepit pintu hati, sebab pintu hati kita adalah pintu Tuhan, yang selalu membebaskan dan mendorong kita untuk ramah dan terbuka terhadap diri sendiri dan sesama di lingkungan sosial kita. Jadikan hati kita berbasiskan semangat saling berbagi dan menjadi lambang keterbukaan bagi hati banyak orang.
Jakarta, 5 Juni 2006
Mimi M Lusli

|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pernahkah anda membaca atau mendengarkan kisah seorang lelaki setengah baya bosan hidup?
Begini alkisahnya, ada seorang lelaki setengah baya sukses dalam usahanya, punya keluarga yang harmonis, berkelimpahan rejeki dan hidup tak pernah kekurangan. Ia suka beramal, bahkan menjadi orangtua asuh dari beberapa anak jalanan. Sempurna bukan?
Rutinitas pekerjaan kantor dikerjakannya layaknya roda yang terus berputar; bertemu mitra bisnis, memimpin rapat hingga mengerjakan urusan surat-menyurat laporan keuangan. Begitu juga di rumah. Pagi-pagi sekali, ia berangkat dari rumah, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah lalu menuju kantor. Setengah jam sebelum makan malam, ia sudah di rumah, istri dan anak-anaknya sudah menunggu di ruang makan. Harmonis bukan?
Apa lagi yang dicari oleh lelaki setengah baya itu? Semuanya ada dihadapannya, tapi mengapa ia selalu dan sering mengeluhkan hidupnya? Ia merasa lelah dan hari-hari yang dilewatinya sangat membosankan. Ia jenuh, apa yang dimiliki tak bisa dinikmatinya.
Ingin rasanya ia menghentikan perputaran roda kehidupan ini, “kematian” gumam lelaki setengah baya itu, “keluargaku tak akan kekurangan hidupnya, aku sudah menyiapkan harta untuk mereka, aku sudah bosan hidup, aku ingin mati saja”.
Untunglah akal sehatnya masih mengajak ia untuk berpikir. Ada keinginan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia takut dosa. Lalu ia pergi ke orang pintar untuk mendapatkan kematian. Kata orang pintar: “Kamu sakit”. Lelaki itu pun menjawab: “Tidak, aku tidak sakit, aku bosan hidup, aku mau mati."
Orang pintar menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berusaha menasehati lelaki itu. Sia-sia belaka, lelaki itu bersikeras ingin mati. Diberinya dua buah tablet untuk diminum malam ini dan besok pagi. Setelah 24 jam meminum obat tersebut lelaki itu akan meninggal dunia sesuai harapannya.
Lelaki setengah baya merasa senang, ia pulang ke rumah dengan penuh gairah dan padat rencana. Ia ingin berbuat sesuatu yang berkesan bagi semua orang, karena itu ia akan melakukan apa yang tidak biasa ia lakukan.
Ia tersenyum dan menyapa istri dan anak-anaknya. Ia memasak untuk keluarganya. Ia membantu anak-anaknya mengerjakan tugas rumah dan menyiapkan buku-buku pelajarannya. Ia menemani istrinya membersihkan dapur dan ruang makan. Sebelum pergi tidur, ia mengajak keluarganya untuk membaca kitab suci dan berdoa. Malam terakhir bersama istri dan anak-anak, “Aku ingin membahagiakan dan melayani mereka”.
Di kantor, ia memberikan salam kepada seluruh stafnya. Ia mengajak makan siang bersama. Ia menyapa para mitra kerjanya. Semuanya ini dilakukan karena ia berpikir “Hari ini adalah hari terakhirku, aku ingin membuat mereka senang”.
Dari hal-hal yang tidak biasa ia lakukan, pelan-pelan rasa bahagia menyelinap dalam hati lelaki itu, yang tanpa disadarinya menghilangkan sedikit demi sedikit rasa bosan dan jenuhnya. Lelaki setengah baya mulai menikmati rutinitas pekerjaannya yang dilakukan dengan penuh senyum, diiringi dengan sapaan dan diwarnai dengan kasih. Ia mensyukuri apa yang ada dihadapannya; ia menemukan senyum di ruang kerjanya; ia menemukan canda ria di rumahnya.
“Haruskah aku mati setelah apa yang kucari kudapatkan?”
Belajar dari alkisah lelaki setengah baya: ia menemukan kebahagiaan dalam waktu 1 hari; kebahagiaan ia dapatkan ketika ia melakukan hal/pekerjaan yang tidak biasa ia lakukan. Harta duniawi dan hidup kedagingan yang dialaninya bertahun-tahun tidak abadi sifatnya, sebaliknya memunculkan rasa lelah dan bosan.
Hidup kita memang rutin dari bangun tidur hingga pergi tidur. Namun kita yang dikaruniai akal budi dan cinta kasih semestinya bisa mengisi rutinitas hidup dengan aneka goresan pinsil warna.
Tersenyum dan menyapa kepada orang di sekitar; berucap terima kasih kepada orang yang telah memberikan bantuan; meminta maaf untuk kesalahan yang telah dibuat; memberikan pujian dan penghargaan kepada mereka yang berupaya optimal mengerjakan sesuatu.

Inilah harta surgawi yang langgeng yang memandu semua pekerjaan rutinitas menjadi nyaman dan menyenangkan.
Carilah harta surgawi lebih dulu, maka harta duniawi akan ditambahkan seiring dengan doa “Tuhan, tambahkan iman, harapan dan kasih, Amin."
Jakarta, 17 Februari 2008
V.L. Mimi Mariani Lusli
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Beberapa tahun yang lalu, diadakan sebuah olimpiade khusus untuk orang-orang cacat di Seattle, Amerika Serikat. Saat itu diadakan pertandingan lari jarak pendek 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap ditempat start masing-masing.
Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakan, mereka semua berlari sekuat tenaga meski tidak tepat berada di garis lintasannya masing-masing, namun semua berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan. Kecuali seorang pelari. Seorang anak laki-laki yang tersandung dan jatuh berguling beberapa kali dan ia lalu menangis.
Delapan orang pelari yang lain mendengar tangisan anak itu, lalu mereka memperlambat lari mereka dan menoleh kebelakang. Mereka semua berbalik dan malah berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh ditanah itu.
Semuanya, tanpa terkecuali.
Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman kepadanya dan berkata, “Semoga ini membuatmu merasa lebih baik.” Kemudian kesembilan pelari itu bergandengan tangan, berjalan bersama menyelesaikan pertandingan menuju garis finish.
Seluruh penonton yang ada di stadion berdiri, memberikan salut selama beberapa lama. Mereka yang berada disana saat itu masih saja tak bosan-bosannya memberikan salut tepuk tangan atas kejadian itu.

Tahukah anda mengapa? Karena didalam diri kita masing-masing tahu, bahwa didalam hidup ini tak ada yang lebih berharga daripada kemenangan bagi kita semua, untuk kita bersama. Terkadang kita mesti mengalah untuk kepentingan yang lebih besar, demi kita semua.
|
|
|
|
|
|
|