Mainstreaming disability for better life Lembaga konsultasi, pelatihan dan publikasi
Maksud
Mengarusutamakan dan membiasakan kecacatan/ disability ke tengah masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik
Tujuan
- Mengupayakan setiap individu dengan kecacatan memperoleh akses untuk mendapatkan hak dan menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, warga sekolah/kampus dan masyarakat;
- Mengupayakan bentuk-bentuk layanan pendukung dan sumber-sumber informasi serta jejaring kerja sama bagi pembangunan masyarakat inklusi yang paham dan peka terhadap kecacatan.
Program:
1. mengembangkan sumber daya manusia yang paham dan peka terhadap disabilitas melalui pelatihan, seminar, workshop, kursus;
2. mengupayakan kegiatan layanan pendukung yang memberikan kemudahan setiap individu dengan kecacatan mendapatkan hak belajar dan hak bekerja melalui konsultasi, pembangunan sistem, modifikasi strategi manajemen, penyediaan guru remidial / guru khusus, dll;
3. menyelenggarakan kegiatan publikasi cetak dan elektronik melalui penerbitan buku, majalah, dll dan pengembangan program radio, TV, website, dll;
4. melakukan kegiatan konseling untuk membantu mereka yang membutuhkan informasi dan alternatif solusi bagi mereka yang sedang menghadapi permasalahan kecacatan baik di lingkungan keluarga, sekolah/kampus, masyarakat, tempat kerja, dll;
5. melaksanakan kegiatan kerja sama dengan pihak/organisasi lain yang mempunyai visi dan tujuan yang sama.
Dewasa ini masih banyak hak-hak penyandang cacat yang terpasung, biasanya mereka mengalami kekerasan diawali dari orang tuanya sendiri, misal, mereka malu mempunyai anak cacat, sehingga tidak disekolahkan, disembunyikan, bahkan ada pula yang dibuang.
Tak jarang mereka beranggapan, hal itu merupakan aib, kutukan, atau dosa dari orang tuanya. Dalam hidup bermasyarakat pelecehan sering kali terjadi, dianggabnya suatu lelucon, jika ada penyandang cacat hadir ditempat umum,sementara mereka mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang lain, baik itu dibidang sandang, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, politik, maupun kesehatan.
Menurut pendapat Dra. Yuniastuti 52 th ,” sampai saat ini penyandang cacat di Indonesia masih banyak yang disembunyikan. Pernyataannya dapat dibuktikan, lanjutnya, lembaga kecacatan mempunyai kegiatan sosial pembagian kursi roda di wilayah Klender, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat, data yang diperoleh hanya 2 dan paling banyak 3 orang yang membutuhkan kursi roda. Ketika lembaga kecacatan tersebut merealisasikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan sebagaimana data, barulah banyak orang tua yang hadir mangajukan permohonan kursi roda untuk anggota keluarganya, dipaparkan oleh Ibu Yuniastuti ketika ditemui di Komnas perempuan, jalan Latu Halhari, Jakarta Pusat, 29 Mei 2007.
Ditempat yang sama, Dra. Ariani,62 th. Mengatakan.” Kurangnya aksesibilitas ditempat umum menjadi masalah tersendiri jika penyandang cacat mengalami kecelakaan di jalan raya, maka mereka tak akan mendapatkan santunan, karena dianggab orang mabuk dan gila, begitu pula bila mau naik pesawat, penyadang cacat harus mengisi formulir dulu, seandainya terjadi sesuatu tidak boleh menuntut, dianggabnya seperti barang, bila rusak tidak boleh minta ganti sementara penyandang cacat membeli tiket seperti orang lain dengan harga yang sama,”katanya.
“Hal ini hanya terjadi di Indonesia,” kata Tolhas.
Terhadap pengalaman penyandang cacat, spontan: “Apakah penyandang cacat itu juga manusia?“ Tanya Ibu Daud ketua Komnas perempuan terheran-heran.
Lain halnya dengan pendapat Des. HRM. Hasan Sadjali 79 th. Ayah dari sepuluh anak ini mengatakan,” Anak adalah titipan Allah, semua orang mempunyai kemampuan berbeda, tak ada seorangpun yang sempurna, masing-masing ada plus minusnya, jadi kalau melihat orang itu jangan dari kekurangannya, melainkan dari kelebihannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan,” memang agak repot mendidik anak yang mempunyai keterbatasan fisik, apalagi dari sepuluh anak kami, lima diantaranya adalah penyandang tunanetra, namun asal kita sabar dan tlaten, yakinlah kendala itu akan bisa teratasi.
Jangan lupa dimana ada satu kesulitan, disitu ada sua kemudahan, dan Alhamdullilah, dari lima anak kami yang menyandang tunanetra, empat diantaranya bisa meraih gelar kesarjanaan.
Jangan lupa dari segi agama harus kita tekankan, ujarnya ketika ditemui dirumahnya, jalan Cipulir I nomor 1c Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 23 Mei 2007.
Berbeda dengan pendapat Rng. H. Suyatmi Hardi Sumarto 84 th. Kerika ditemui lewat telephone, 15 Juni 2007, eyang dari dua puluh satu anak ini mengatakan,” buat apa kita malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya? . Jadi sebaiknya kita tak usah mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita.
Untuk urusan rizki tak usah terlalu dipusingkan, karena semua orngan di dunia ini rizkinya ditanggung oleh yang Maha Agung,tambahnya.
Diera globalisasi seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sedang menjadi topik hangat baik di dalam maupun di luar negri, maka, sangatlah tidak terpuji, bila masih ada orang yang senang memasung hak orang lain.
Penyandang cacat adalah asset Negara, berikan hak dan tanggung jawabnya agar mereka bisa melakukan sesuatu untuk nusa dan bangsanya.
Dewasa ini masih banyak hak-hak penyandang cacat yang terpasung, biasanya mereka mengalami kekerasan diawali dari orang tuanya sendiri, misal, mereka malu mempunyai anak cacat, sehingga tidak disekolahkan, disembunyikan, bahkan ada pula yang dibuang.
Tak jarang mereka beranggapan, hal itu merupakan aib, kutukan, atau dosa dari orang tuanya. Dalam hidup bermasyarakat pelecehan sering kali terjadi, dianggabnya suatu lelucon, jika ada penyandang cacat hadir ditempat umum,sementara mereka mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang lain, baik itu dibidang sandang, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, politik, maupun kesehatan.
Menurut pendapat Dra. Yuniastuti 52 th ,” sampai saat ini penyandang cacat di Indonesia masih banyak yang disembunyikan. Pernyataannya dapat dibuktikan, lanjutnya, lembaga kecacatan mempunyai kegiatan sosial pembagian kursi roda di wilayah Klender, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat, data yang diperoleh hanya 2 dan paling banyak 3 orang yang membutuhkan kursi roda. Ketika lembaga kecacatan tersebut merealisasikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan sebagaimana data, barulah banyak orang tua yang hadir mangajukan permohonan kursi roda untuk anggota keluarganya, dipaparkan oleh Ibu Yuniastuti ketika ditemui di Komnas perempuan, jalan Latu Halhari, Jakarta Pusat, 29 Mei 2007.
Ditempat yang sama, Dra. Ariani,62 th. Mengatakan.” Kurangnya aksesibilitas ditempat umum menjadi masalah tersendiri jika penyandang cacat mengalami kecelakaan di jalan raya, maka mereka tak akan mendapatkan santunan, karena dianggab orang mabuk dan gila, begitu pula bila mau naik pesawat, penyadang cacat harus mengisi formulir dulu, seandainya terjadi sesuatu tidak boleh menuntut, dianggabnya seperti barang, bila rusak tidak boleh minta ganti sementara penyandang cacat membeli tiket seperti orang lain dengan harga yang sama,”katanya.
“Hal ini hanya terjadi di Indonesia,” kata Tolhas.
Terhadap pengalaman penyandang cacat, spontan: “Apakah penyandang cacat itu juga manusia?“ Tanya Ibu Daud ketua Komnas perempuan terheran-heran.
Lain halnya dengan pendapat Des. HRM. Hasan Sadjali 79 th. Ayah dari sepuluh anak ini mengatakan,” Anak adalah titipan Allah, semua orang mempunyai kemampuan berbeda, tak ada seorangpun yang sempurna, masing-masing ada plus minusnya, jadi kalau melihat orang itu jangan dari kekurangannya, melainkan dari kelebihannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan,” memang agak repot mendidik anak yang mempunyai keterbatasan fisik, apalagi dari sepuluh anak kami, lima diantaranya adalah penyandang tunanetra, namun asal kita sabar dan tlaten, yakinlah kendala itu akan bisa teratasi.
Jangan lupa dimana ada satu kesulitan, disitu ada sua kemudahan, dan Alhamdullilah, dari lima anak kami yang menyandang tunanetra, empat diantaranya bisa meraih gelar kesarjanaan.
Jangan lupa dari segi agama harus kita tekankan, ujarnya ketika ditemui dirumahnya, jalan Cipulir I nomor 1c Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 23 Mei 2007.
Berbeda dengan pendapat Rng. H. Suyatmi Hardi Sumarto 84 th. Kerika ditemui lewat telephone, 15 Juni 2007, eyang dari dua puluh satu anak ini mengatakan,” buat apa kita malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya? . Jadi sebaiknya kita tak usah mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita.
Untuk urusan rizki tak usah terlalu dipusingkan, karena semua orngan di dunia ini rizkinya ditanggung oleh yang Maha Agung,tambahnya.
Diera globalisasi seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sedang menjadi topik hangat baik di dalam maupun di luar negri, maka, sangatlah tidak terpuji, bila masih ada orang yang senang memasung hak orang lain.
Penyandang cacat adalah asset Negara, berikan hak dan tanggung jawabnya agar mereka bisa melakukan sesuatu untuk nusa dan bangsanya.
Inklusi ilusi? Realita diperkirakan 10-15% dari jumlah siswa di sekolah adalah siswa berkebutuhan khusus. Orangtua anak berkebutuhan khusus pontang-panting mencarikan sekolah bagi pemenuhan hak anaknya dalam belajar dan bermain.
Sekolah dengan pendekatan pendidikan inklusi, apakah jawabannya? Sekolah terbuka dan ramah dicari dan diharapkan oleh orangtua; pembelajaran yang aktif,kreatif,efektif dan menyenangkan menjadi tanggung jawab guru. Konsep pendidikan inklusi yang terbuka, ramah dan menyenangkan, membuat siswa aktif serta proses pembelajaran yang kreatif dan efektif tidak akan menjadi ilusi bila tersedia guru pembimbing khusus sebagai mitra kerja guru wali kelas/bidang studi dan orang tua.
Tujuan
-meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap guru dan orangtua dalam penanganan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah dan di rumah.
-Memantapkan profesi guru pembimbing khusus dalam penyelenggaraan sekolah inklusi.
-Memperkuat kerja sama guru pembimbing khusus dan guru wali kelas / bidang studi dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus di kelas.
Sesi
Hari/Tanggal
Waktu
Materi
Pembicara
Lembaga
I
Selasa,23 Februari 2010
13.00 – 17.00
Apakah pendidikan inklusi hanya ilusi?
Dra. Mimi M. Lusli, M.Si, MA
Mimi Institute
II
Selasa, 2 Maret 2010
13.00 – 15.00
15.00 –17.00
Disabilitas: pendekatan medis dan sosial.
Tinjauan pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Dra.Mimi M. Lusli, M.Si, MA
Frieda Manungsong, Phd
Mimi Institute
Fak. Psikologi UI
III
Kamis, 4 Maret 2010
13.00 – 15.00
15.00-17.00
Kompetensi yang perlu dimiliki Guru Pembimbing Khusus
Tugas dan kesetaraan peran dengan guru wali kelas/bidang studi.
Dra.Mimi M. Lusli, M.Si, MA
Dewi Trihandayani,M.Psi
Mimi Institute
Fak.Psikologi UHAMKA
IV
Selasa,9 Maret 2010
13.00 – 15.00
15.00-17.00
Strategi komunikasi dan kerja sama di sekolah inklusi
Kekuatan konseling dalam penanganan anak berkebutuhan khusus
Dra.Mimi M.Lusli,M.Si,M.A
N. Bimantoro Elifas,M.Div
Mimi Institute
Life Spring
V
Kamis,11 Maret 2010
13.00 – 17.00
Anak dengan tuna grahita bukan harga mati
Astrid Louisa, S.Psi
Mimi Institute
V I
Kamis,18 Maret 2010
13.00 – 17.00
Anak dengan Slow learnertidak harus di SLB
Penny Handayani,Psi
Fak.Psikologi UNIKA Atmajaya
VII
Selasa,23 Maret 2010
13.00 – 15.00
15.00 – 17.00
Tinjauan Medis Anak dengan Kesulitan Belajar Spesifik
Tinjauan psikologi anak dengan kebutuhan belajar spesifik
dr. Dwijo Saputro, Sp.KJ
Dewi Trihandayani, M.Psi
Smart Kid
Fak.Psikologi UHAMKA
VIII
Kamis,25 Maret 2010
13.00 – 17.00
Reading Disorder(disleksia)dan Penanganannya
Dewi Trihandayani, M.Psi
Fak.Psikologi UHAMKA
IX
Selasa, 30 Maret 2010
13.00 – 17.00
Apa dan Bagaimana Written Expression(disgrafia) ?
Dewi Trihandayani, M.Psi
Fak.Psikologi UHAMKA
X
Selasa, 6 April 2010
13.00 – 17.00
Mathematic Disorder(diskalkulia) dan cara Pembelajarannya.
Dewi Trihandayani, M.Psi
Fak.Psikologi UHAMKA
XI
Kamis, 8 April 2010
13.00-15.00
15.00-17.00
Tinjauan media anak dengan ADHD
Tinjauan psikologis anak dengan ADHD
dr. Dwijo Saputro, Sp.KJ
Athalia Sunaryo, M.Psi
Smart Kid
Life Spring
XII
Selasa,13 April 2010
13.00 – 17.00
Anak dengan ADHD: siapa mereka dan apa pengaruhnya dalam kegiatan pembelajaran
Athalia Sunaryo, M.Psi
Life Spring
XIII
Kamis, 15 April 2010
13.00 – 17.00
Tata Laksana Kependidikan anak dengan ADHD
Athalia Sunaryo, M.Psi
Life Spring
XIV
Selasa, 20 April 2010
13.00 – 15.00
15.00 – 17.00
Tinjauan Medis Penyebab Terjadinya Autisme
Gambaran anak dengan Autisme
dr. Dwijo Saputro, Sp.KJ
Dewi Trihandayani, M.Psi
Smart Kid
Fak.Psikologi UHAMKA
XV
Kamis,22 April 2010
13.00 – 17.00
Penanganan Perilaku dan Emosi anak dengan Autisme
Dewi Trihandayani, M.Psi
Fak.Psikologi UHAMKA
XVI
Selasa, 27 April 2010
13.00 – 17.00
Membantu anak dengan autismebelajar
Athalia Sunaryo, M.Psi
Life Spring
XVII
Kamis, 29 April 2010
13.00-17.00
Cara praktis penanganan belajar anak dengan Emotional Disorder
Penny Handayani,Psi
Fak.Psikologi UNIKA Atmajaya
XVIII
Selasa, 4 Mei 2010
13.00 – 17.00
Kendala dan solusi penanganan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler
Dra.Mimi M. Lusli, M.Si, MA
Mimi Institute
XIX
Kamis, 6 Mei 2010
13.00 – 17.00
Modifikasi KBM dalam kelas inklusi
Dra.Mimi M. Lusli, M.Si, MA
Mimi Institute
XX
Selasa, 11 Mei 2010
13.00-17.00
Menata lingkungan kelas inklusif
Dra.Mimi M. Lusli, M.Si, MA
Mimi Institute
Siapa yang seharusnya mengikuti kursus ini?
-shadow teacher/aid teacher/itinerant teacher/ guru pembimbing khusus
-orang tua
-pengasuh
-guru kelas/guru bidang studi
-praktisi dan pemerhati pendidikan
-terapis
-mahasiswa
Pendaftaran:
-per sesi:
a.Sesi :Apakah pendidikan hanya ilusi ?
biaya : Rp.100 000,-
b.Sesi : Disabilitas: pendekatan medis dan sosial
Tinjauan pendidikan anak berkebutuhan khusus
Biaya : Rp. 100 000,-
c.Sesi :Kompetensi yang perlu dimiliki Guru Pembimbing Khusus
Tugas dan kesetaraan peran dengan guru wali kelas/bidang studi
Biaya : Rp. 100 000,-
d.Sesi : Strategi Komunikasi dan kerja sama sekolah inklusi
Kekuatan konseling dalam penanganan anak berkebutuhan khusus
Biaya : Rp.100 000,-
e.Sesi :Anak dengan Tuna Grahita
Biaya: Rp.100 000,-
f.Sesi : Anak dengan Slow Learner
Biaya : Rp. 100 000
g.Sesi : Anak dengan Kesulitan Belajar
Biaya : Rp. 400 000,-
h.Sesi : Anak dengan ADHD
Biaya : Rp.300 000,-
i.Sesi : Anak dengan Autisme
Biaya: Rp.300 000,-
j.Sesi : Anak dengan Emotional Disorder
Biaya : Rp.100 000,-
k.Sesi : Kendala dan solusi penanganan anak berkebutuhan khusus di sekolah
Biaya : Rp.100 000,-
l.Sesi : Modifikasi Kegiatan Belajar Mengajar dalam kelas Inklusi
Biaya : Rp.100 000,-
m.Sesi : Menata Lingkungan Kelas Inklusi
Biaya : Rp.100 000,-
-per paket :
a.Early bird(s/d tgl.15 Januari 2009):Rp.1 500 000,-
b.Normal (mulai tgl 16 Januari 2009): Rp.1800 000,-
untuk pendaftaran kelompok (min.3 orang) mendapatkan potongan 10%
Tempat :
Apartemen Mediterania Garden Residences I | Tower Dahlia, Unit D/01-07 lantai 1
Jl. Tanjung Duren Raya Kav.5-9 |Grogol, Jakarta Barat
Untuk informasi dan pendaftaran dapat menghubungi 021-30047780/ 021-33932211/ 0815. 462. 864.52 dengan Astrid atau via email ke info@mimiinstitute.com.
Pernahkah anda membaca atau mendengarkan kisah seorang lelaki setengah baya bosan hidup?
Begini alkisahnya, ada seorang lelaki setengah baya sukses dalam usahanya, punya keluarga yang harmonis, berkelimpahan rejeki dan hidup tak pernah kekurangan. Ia suka beramal, bahkan menjadi orangtua asuh dari beberapa anak jalanan. Sempurna bukan?
Rutinitas pekerjaan kantor dikerjakannya layaknya roda yang terus berputar; bertemu mitra bisnis, memimpin rapat hingga mengerjakan urusan surat-menyurat laporan keuangan. Begitu juga di rumah. Pagi-pagi sekali, ia berangkat dari rumah, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah lalu menuju kantor. Setengah jam sebelum makan malam, ia sudah di rumah, istri dan anak-anaknya sudah menunggu di ruang makan. Harmonis bukan?
Apa lagi yang dicari oleh lelaki setengah baya itu? Semuanya ada dihadapannya, tapi mengapa ia selalu dan sering mengeluhkan hidupnya? Ia merasa lelah dan hari-hari yang dilewatinya sangat membosankan. Ia jenuh, apa yang dimiliki tak bisa dinikmatinya.
Ingin rasanya ia menghentikan perputaran roda kehidupan ini, “kematian” gumam lelaki setengah baya itu, “keluargaku tak akan kekurangan hidupnya, aku sudah menyiapkan harta untuk mereka, aku sudah bosan hidup, aku ingin mati saja”.
Untunglah akal sehatnya masih mengajak ia untuk berpikir. Ada keinginan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia takut dosa. Lalu ia pergi ke orang pintar untuk mendapatkan kematian. Kata orang pintar: “Kamu sakit”. Lelaki itu pun menjawab: “Tidak, aku tidak sakit, aku bosan hidup, aku mau mati."
Orang pintar menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berusaha menasehati lelaki itu. Sia-sia belaka, lelaki itu bersikeras ingin mati. Diberinya dua buah tablet untuk diminum malam ini dan besok pagi. Setelah 24 jam meminum obat tersebut lelaki itu akan meninggal dunia sesuai harapannya.
Lelaki setengah baya merasa senang, ia pulang ke rumah dengan penuh gairah dan padat rencana. Ia ingin berbuat sesuatu yang berkesan bagi semua orang, karena itu ia akan melakukan apa yang tidak biasa ia lakukan.
Ia tersenyum dan menyapa istri dan anak-anaknya. Ia memasak untuk keluarganya. Ia membantu anak-anaknya mengerjakan tugas rumah dan menyiapkan buku-buku pelajarannya. Ia menemani istrinya membersihkan dapur dan ruang makan. Sebelum pergi tidur, ia mengajak keluarganya untuk membaca kitab suci dan berdoa. Malam terakhir bersama istri dan anak-anak, “Aku ingin membahagiakan dan melayani mereka”.
Di kantor, ia memberikan salam kepada seluruh stafnya. Ia mengajak makan siang bersama. Ia menyapa para mitra kerjanya. Semuanya ini dilakukan karena ia berpikir “Hari ini adalah hari terakhirku, aku ingin membuat mereka senang”.
Dari hal-hal yang tidak biasa ia lakukan, pelan-pelan rasa bahagia menyelinap dalam hati lelaki itu, yang tanpa disadarinya menghilangkan sedikit demi sedikit rasa bosan dan jenuhnya. Lelaki setengah baya mulai menikmati rutinitas pekerjaannya yang dilakukan dengan penuh senyum, diiringi dengan sapaan dan diwarnai dengan kasih. Ia mensyukuri apa yang ada dihadapannya; ia menemukan senyum di ruang kerjanya; ia menemukan canda ria di rumahnya.
“Haruskah aku mati setelah apa yang kucari kudapatkan?”
Belajar dari alkisah lelaki setengah baya: ia menemukan kebahagiaan dalam waktu 1 hari; kebahagiaan ia dapatkan ketika ia melakukan hal/pekerjaan yang tidak biasa ia lakukan. Harta duniawi dan hidup kedagingan yang dialaninya bertahun-tahun tidak abadi sifatnya, sebaliknya memunculkan rasa lelah dan bosan.
Hidup kita memang rutin dari bangun tidur hingga pergi tidur. Namun kita yang dikaruniai akal budi dan cinta kasih semestinya bisa mengisi rutinitas hidup dengan aneka goresan pinsil warna.
Tersenyum dan menyapa kepada orang di sekitar; berucap terima kasih kepada orang yang telah memberikan bantuan; meminta maaf untuk kesalahan yang telah dibuat; memberikan pujian dan penghargaan kepada mereka yang berupaya optimal mengerjakan sesuatu.
Inilah harta surgawi yang langgeng yang memandu semua pekerjaan rutinitas menjadi nyaman dan menyenangkan.
Carilah harta surgawi lebih dulu, maka harta duniawi akan ditambahkan seiring dengan doa “Tuhan, tambahkan iman, harapan dan kasih, Amin."