Mimi institute
Mainstreaming disability for better life
Maksud Tujuan Program:
|
|||
23/02/2010 - 13:00 04/05/2010 - 17:00 Etc/GMT+7
INTENSIVE COURSE Special Educational Teacher / Shadow Teacher Inklusi ilusi? Realita diperkirakan 10-15% dari jumlah siswa di sekolah adalah siswa berkebutuhan khusus. Orangtua anak berkebutuhan khusus pontang-panting mencarikan sekolah bagi pemenuhan hak anaknya dalam belajar dan bermain. Sekolah dengan pendekatan pendidikan inklusi, apakah jawabannya? Sekolah terbuka dan ramah dicari dan diharapkan oleh orangtua; pembelajaran yang aktif,kreatif,efektif dan menyenangkan menjadi tanggung jawab guru. Konsep pendidikan inklusi yang terbuka, ramah dan menyenangkan, membuat siswa aktif serta proses pembelajaran yang kreatif dan efektif tidak akan menjadi ilusi bila tersedia guru pembimbing khusus sebagai mitra kerja guru wali kelas/bidang studi dan orang tua. Tujuan - meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap guru dan orangtua dalam penanganan pendidikan anak berkebutuhan khusus di sekolah dan di rumah. - Memantapkan profesi guru pembimbing khusus dalam penyelenggaraan sekolah inklusi. - Memperkuat kerja sama guru pembimbing khusus dan guru wali kelas / bidang studi dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus di kelas.
Siapa yang seharusnya mengikuti kursus ini? - shadow teacher/aid teacher/itinerant teacher/ guru pembimbing khusus - orang tua - pengasuh - guru kelas/guru bidang studi - praktisi dan pemerhati pendidikan - terapis - mahasiswa Pendaftaran: - per sesi: a. Sesi :Apakah pendidikan hanya ilusi ? biaya : Rp.100 000,- b. Sesi : Disabilitas: pendekatan medis dan sosial Tinjauan pendidikan anak berkebutuhan khusus Biaya : Rp. 100 000,- c. Sesi : Kompetensi yang perlu dimiliki Guru Pembimbing Khusus Tugas dan kesetaraan peran dengan guru wali kelas/bidang studi Biaya : Rp. 100 000,- d. Sesi : Strategi Komunikasi dan kerja sama sekolah inklusi Kekuatan konseling dalam penanganan anak berkebutuhan khusus Biaya : Rp.100 000,- e. Sesi : Anak dengan Tuna Grahita Biaya: Rp.100 000,- f. Sesi : Anak dengan Slow Learner Biaya : Rp. 100 000 g. Sesi : Anak dengan Kesulitan Belajar Biaya : Rp. 400 000,- h. Sesi : Anak dengan ADHD Biaya : Rp.300 000,- i. Sesi : Anak dengan Autisme Biaya: Rp.300 000,- j. Sesi : Anak dengan Emotional Disorder Biaya : Rp.100 000,- k. Sesi : Kendala dan solusi penanganan anak berkebutuhan khusus di sekolah Biaya : Rp.100 000,- l. Sesi : Modifikasi Kegiatan Belajar Mengajar dalam kelas Inklusi Biaya : Rp.100 000,- m. Sesi : Menata Lingkungan Kelas Inklusi Biaya : Rp.100 000,- - per paket : a. Early bird(s/d tgl.15 Januari 2009):Rp.1 500 000,- b. untuk pendaftaran kelompok (min.3 orang) mendapatkan potongan 10% Tempat : Apartemen Mediterania Garden Residences I | Tower Dahlia, Unit D/01-07 lantai 1 Jl. Tanjung Duren Raya Kav.5-9 |Grogol, Jakarta Barat Untuk informasi dan pendaftaran dapat menghubungi 021-30047780/ 021-33932211/ 0815. 462. 864.52 dengan Astrid atau via email ke info@mimiinstitute.com.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pernahkah anda membaca atau mendengarkan kisah seorang lelaki setengah baya bosan hidup? Begini alkisahnya, ada seorang lelaki setengah baya sukses dalam usahanya, punya keluarga yang harmonis, berkelimpahan rejeki dan hidup tak pernah kekurangan. Ia suka beramal, bahkan menjadi orangtua asuh dari beberapa anak jalanan. Sempurna bukan? Rutinitas pekerjaan kantor dikerjakannya layaknya roda yang terus berputar; bertemu mitra bisnis, memimpin rapat hingga mengerjakan urusan surat-menyurat laporan keuangan. Begitu juga di rumah. Pagi-pagi sekali, ia berangkat dari rumah, mengantarkan anak-anaknya ke sekolah lalu menuju kantor. Setengah jam sebelum makan malam, ia sudah di rumah, istri dan anak-anaknya sudah menunggu di ruang makan. Harmonis bukan? Apa lagi yang dicari oleh lelaki setengah baya itu? Semuanya ada dihadapannya, tapi mengapa ia selalu dan sering mengeluhkan hidupnya? Ia merasa lelah dan hari-hari yang dilewatinya sangat membosankan. Ia jenuh, apa yang dimiliki tak bisa dinikmatinya. Untunglah akal sehatnya masih mengajak ia untuk berpikir. Ada keinginan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia takut dosa. Lalu ia pergi ke orang pintar untuk mendapatkan kematian. Kata orang pintar: “Kamu sakit”. Lelaki itu pun menjawab: “Tidak, aku tidak sakit, aku bosan hidup, aku mau mati." Orang pintar menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berusaha menasehati lelaki itu. Sia-sia belaka, lelaki itu bersikeras ingin mati. Diberinya dua buah tablet untuk diminum malam ini dan besok pagi. Setelah 24 jam meminum obat tersebut lelaki itu akan meninggal dunia sesuai harapannya. Lelaki setengah baya merasa senang, ia pulang ke rumah dengan penuh gairah dan padat rencana. Ia ingin berbuat sesuatu yang berkesan bagi semua orang, karena itu ia akan melakukan apa yang tidak biasa ia lakukan. Ia tersenyum dan menyapa istri dan anak-anaknya. Ia memasak untuk keluarganya. Ia membantu anak-anaknya mengerjakan tugas rumah dan menyiapkan buku-buku pelajarannya. Ia menemani istrinya membersihkan dapur dan ruang makan. Sebelum pergi tidur, ia mengajak keluarganya untuk membaca kitab suci dan berdoa. Malam terakhir bersama istri dan anak-anak, “Aku ingin membahagiakan dan melayani mereka”. Di kantor, ia memberikan salam kepada seluruh stafnya. Ia mengajak makan siang bersama. Ia menyapa para mitra kerjanya. Semuanya ini dilakukan karena ia berpikir “Hari ini adalah hari terakhirku, aku ingin membuat mereka senang”. Dari hal-hal yang tidak biasa ia lakukan, pelan-pelan rasa bahagia menyelinap dalam hati lelaki itu, yang tanpa disadarinya menghilangkan sedikit demi sedikit rasa bosan dan jenuhnya. Lelaki setengah baya mulai menikmati rutinitas pekerjaannya yang dilakukan dengan penuh senyum, diiringi dengan sapaan dan diwarnai dengan kasih. Ia mensyukuri apa yang ada dihadapannya; ia menemukan senyum di ruang kerjanya; ia menemukan canda ria di rumahnya. “Haruskah aku mati setelah apa yang kucari kudapatkan?” Belajar dari alkisah lelaki setengah baya: ia menemukan kebahagiaan dalam waktu 1 hari; kebahagiaan ia dapatkan ketika ia melakukan hal/pekerjaan yang tidak biasa ia lakukan. Harta duniawi dan hidup kedagingan yang dialaninya bertahun-tahun tidak abadi sifatnya, sebaliknya memunculkan rasa lelah dan bosan. Hidup kita memang rutin dari bangun tidur hingga pergi tidur. Namun kita yang dikaruniai akal budi dan cinta kasih semestinya bisa mengisi rutinitas hidup dengan aneka goresan pinsil warna. Tersenyum dan menyapa kepada orang di sekitar; berucap terima kasih kepada orang yang telah memberikan bantuan; meminta maaf untuk kesalahan yang telah dibuat; memberikan pujian dan penghargaan kepada mereka yang berupaya optimal mengerjakan sesuatu.
Inilah harta surgawi yang langgeng yang memandu semua pekerjaan rutinitas menjadi nyaman dan menyenangkan. Carilah harta surgawi lebih dulu, maka harta duniawi akan ditambahkan seiring dengan doa “Tuhan, tambahkan iman, harapan dan kasih, Amin." Jakarta, 17 Februari 2008 V.L. Mimi Mariani Lusli
|
|||


