Mainstreaming disability for better life Lembaga konsultasi, pelatihan dan publikasi
Visi
Mengarusutamakan dan membiasakan kecacatan/ disability ke tengah masyarakat untuk kehidupan yang lebih baik
Misi
- Mendidik masyarakat agar mendapatkan pemahaman yang tepat tentang disabilitas
- memberdayakan orang dengan disabilitas agar mampu mengadvokasi diri mereka melalui capacity building
Program:
1. mengembangkan sumber daya manusia yang paham dan peka terhadap disabilitas melalui pelatihan, seminar, workshop, kursus;
2. mengupayakan kegiatan layanan pendukung yang memberikan kemudahan setiap individu dengan kecacatan mendapatkan hak belajar dan hak bekerja melalui konsultasi, pembangunan sistem, modifikasi strategi manajemen, penyediaan guru remidial / guru khusus, dll;
3. menyelenggarakan kegiatan publikasi cetak dan elektronik melalui penerbitan buku, majalah, dll dan pengembangan program radio, TV, website, dll;
4. melakukan kegiatan konseling untuk membantu mereka yang membutuhkan informasi dan alternatif solusi bagi mereka yang sedang menghadapi permasalahan kecacatan baik di lingkungan keluarga, sekolah/kampus, masyarakat, tempat kerja, dll;
5. melaksanakan kegiatan kerja sama dengan pihak/organisasi lain yang mempunyai visi dan tujuan yang sama.
Lokasi:
Apartemen Mediterania Garden Residences I
Tower Dahlia,Unit d/01-07 lantai 1
Jl. Tanjung Duren Raya Kav.5-9. Grogol.Jakarta Barat
Founder of Mimi Institute – “Mainstreaming Disability for a Better Life”, MA International Communication, University of Leeds
From an early age I realised that disabled people could not be heard, even though we all have a voice. This realisation became my focus and my mission in life is to promote the right of disabled people to communicate.
Not surprisingly I chose to further my studies in communication and chose the UK as it had always been my 1st destination when dreaming of studying abroad. The UK was also a strong supporter of the rights of disabled people that I was also campaigning for.
My first impression of the UK was how friendly people were, warmly greeting me as I arrived in Leeds. They opened their mind to the cause I supported. What I loved most was how easy it was to find learning sources like Braille books, personal assistants, talking books and laptops with JAWS.
On campus as well as off, I was welcomed without reservation, and was not judged by the fact I was blind. From bus drivers to shop assistants, society understood how to interact with disabled people. It was one of the most amazing experiences in my life.
Studying in the UK changed most of my theories on life. Most importantly, I changed as a person and developed a more positive attitude. This affected how I handled others, how I lead a team and how I built working culture and networks.
If you are thinking about going to the UK for further education, just go for it. When you get there don’t sit in silence when you need to know something. Don’t be afraid to ask. Add friends every day. Learn to seek as much knowledge as you can. And most importantly, communicate your thoughts!
Dewasa ini masih banyak hak-hak penyandang cacat yang terpasung, biasanya mereka mengalami kekerasan diawali dari orang tuanya sendiri, misal, mereka malu mempunyai anak cacat, sehingga tidak disekolahkan, disembunyikan, bahkan ada pula yang dibuang.
Tak jarang mereka beranggapan, hal itu merupakan aib, kutukan, atau dosa dari orang tuanya. Dalam hidup bermasyarakat pelecehan sering kali terjadi, dianggabnya suatu lelucon, jika ada penyandang cacat hadir ditempat umum,sementara mereka mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang lain, baik itu dibidang sandang, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, politik, maupun kesehatan.
Menurut pendapat Dra. Yuniastuti 52 th ,” sampai saat ini penyandang cacat di Indonesia masih banyak yang disembunyikan. Pernyataannya dapat dibuktikan, lanjutnya, lembaga kecacatan mempunyai kegiatan sosial pembagian kursi roda di wilayah Klender, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat, data yang diperoleh hanya 2 dan paling banyak 3 orang yang membutuhkan kursi roda. Ketika lembaga kecacatan tersebut merealisasikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan sebagaimana data, barulah banyak orang tua yang hadir mangajukan permohonan kursi roda untuk anggota keluarganya, dipaparkan oleh Ibu Yuniastuti ketika ditemui di Komnas perempuan, jalan Latu Halhari, Jakarta Pusat, 29 Mei 2007.
Ditempat yang sama, Dra. Ariani,62 th. Mengatakan.” Kurangnya aksesibilitas ditempat umum menjadi masalah tersendiri jika penyandang cacat mengalami kecelakaan di jalan raya, maka mereka tak akan mendapatkan santunan, karena dianggab orang mabuk dan gila, begitu pula bila mau naik pesawat, penyadang cacat harus mengisi formulir dulu, seandainya terjadi sesuatu tidak boleh menuntut, dianggabnya seperti barang, bila rusak tidak boleh minta ganti sementara penyandang cacat membeli tiket seperti orang lain dengan harga yang sama,”katanya.
“Hal ini hanya terjadi di Indonesia,” kata Tolhas.
Terhadap pengalaman penyandang cacat, spontan: “Apakah penyandang cacat itu juga manusia?“ Tanya Ibu Daud ketua Komnas perempuan terheran-heran.
Lain halnya dengan pendapat Des. HRM. Hasan Sadjali 79 th. Ayah dari sepuluh anak ini mengatakan,” Anak adalah titipan Allah, semua orang mempunyai kemampuan berbeda, tak ada seorangpun yang sempurna, masing-masing ada plus minusnya, jadi kalau melihat orang itu jangan dari kekurangannya, melainkan dari kelebihannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan,” memang agak repot mendidik anak yang mempunyai keterbatasan fisik, apalagi dari sepuluh anak kami, lima diantaranya adalah penyandang tunanetra, namun asal kita sabar dan tlaten, yakinlah kendala itu akan bisa teratasi.
Jangan lupa dimana ada satu kesulitan, disitu ada sua kemudahan, dan Alhamdullilah, dari lima anak kami yang menyandang tunanetra, empat diantaranya bisa meraih gelar kesarjanaan.
Jangan lupa dari segi agama harus kita tekankan, ujarnya ketika ditemui dirumahnya, jalan Cipulir I nomor 1c Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 23 Mei 2007.
Berbeda dengan pendapat Rng. H. Suyatmi Hardi Sumarto 84 th. Kerika ditemui lewat telephone, 15 Juni 2007, eyang dari dua puluh satu anak ini mengatakan,” buat apa kita malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya? . Jadi sebaiknya kita tak usah mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita.
Untuk urusan rizki tak usah terlalu dipusingkan, karena semua orngan di dunia ini rizkinya ditanggung oleh yang Maha Agung,tambahnya.
Diera globalisasi seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sedang menjadi topik hangat baik di dalam maupun di luar negri, maka, sangatlah tidak terpuji, bila masih ada orang yang senang memasung hak orang lain.
Penyandang cacat adalah asset Negara, berikan hak dan tanggung jawabnya agar mereka bisa melakukan sesuatu untuk nusa dan bangsanya.
Dewasa ini masih banyak hak-hak penyandang cacat yang terpasung, biasanya mereka mengalami kekerasan diawali dari orang tuanya sendiri, misal, mereka malu mempunyai anak cacat, sehingga tidak disekolahkan, disembunyikan, bahkan ada pula yang dibuang.
Tak jarang mereka beranggapan, hal itu merupakan aib, kutukan, atau dosa dari orang tuanya. Dalam hidup bermasyarakat pelecehan sering kali terjadi, dianggabnya suatu lelucon, jika ada penyandang cacat hadir ditempat umum,sementara mereka mempunyai kebutuhan yang sama seperti orang lain, baik itu dibidang sandang, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, politik, maupun kesehatan.
Menurut pendapat Dra. Yuniastuti 52 th ,” sampai saat ini penyandang cacat di Indonesia masih banyak yang disembunyikan. Pernyataannya dapat dibuktikan, lanjutnya, lembaga kecacatan mempunyai kegiatan sosial pembagian kursi roda di wilayah Klender, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat, data yang diperoleh hanya 2 dan paling banyak 3 orang yang membutuhkan kursi roda. Ketika lembaga kecacatan tersebut merealisasikan bantuan kursi roda kepada warga yang membutuhkan sebagaimana data, barulah banyak orang tua yang hadir mangajukan permohonan kursi roda untuk anggota keluarganya, dipaparkan oleh Ibu Yuniastuti ketika ditemui di Komnas perempuan, jalan Latu Halhari, Jakarta Pusat, 29 Mei 2007.
Ditempat yang sama, Dra. Ariani,62 th. Mengatakan.” Kurangnya aksesibilitas ditempat umum menjadi masalah tersendiri jika penyandang cacat mengalami kecelakaan di jalan raya, maka mereka tak akan mendapatkan santunan, karena dianggab orang mabuk dan gila, begitu pula bila mau naik pesawat, penyadang cacat harus mengisi formulir dulu, seandainya terjadi sesuatu tidak boleh menuntut, dianggabnya seperti barang, bila rusak tidak boleh minta ganti sementara penyandang cacat membeli tiket seperti orang lain dengan harga yang sama,”katanya.
“Hal ini hanya terjadi di Indonesia,” kata Tolhas.
Terhadap pengalaman penyandang cacat, spontan: “Apakah penyandang cacat itu juga manusia?“ Tanya Ibu Daud ketua Komnas perempuan terheran-heran.
Lain halnya dengan pendapat Des. HRM. Hasan Sadjali 79 th. Ayah dari sepuluh anak ini mengatakan,” Anak adalah titipan Allah, semua orang mempunyai kemampuan berbeda, tak ada seorangpun yang sempurna, masing-masing ada plus minusnya, jadi kalau melihat orang itu jangan dari kekurangannya, melainkan dari kelebihannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan,” memang agak repot mendidik anak yang mempunyai keterbatasan fisik, apalagi dari sepuluh anak kami, lima diantaranya adalah penyandang tunanetra, namun asal kita sabar dan tlaten, yakinlah kendala itu akan bisa teratasi.
Jangan lupa dimana ada satu kesulitan, disitu ada sua kemudahan, dan Alhamdullilah, dari lima anak kami yang menyandang tunanetra, empat diantaranya bisa meraih gelar kesarjanaan.
Jangan lupa dari segi agama harus kita tekankan, ujarnya ketika ditemui dirumahnya, jalan Cipulir I nomor 1c Kebayoran Baru Jakarta Selatan, 23 Mei 2007.
Berbeda dengan pendapat Rng. H. Suyatmi Hardi Sumarto 84 th. Kerika ditemui lewat telephone, 15 Juni 2007, eyang dari dua puluh satu anak ini mengatakan,” buat apa kita malu mempunyai anak berkebutuhan khusus, bukankah Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya? . Jadi sebaiknya kita tak usah mengolok-olok orang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari kita.
Untuk urusan rizki tak usah terlalu dipusingkan, karena semua orngan di dunia ini rizkinya ditanggung oleh yang Maha Agung,tambahnya.
Diera globalisasi seperti sekarang ini, dimana hak asasi manusia sedang menjadi topik hangat baik di dalam maupun di luar negri, maka, sangatlah tidak terpuji, bila masih ada orang yang senang memasung hak orang lain.
Penyandang cacat adalah asset Negara, berikan hak dan tanggung jawabnya agar mereka bisa melakukan sesuatu untuk nusa dan bangsanya.